#1 Bab3

Illuminati

Keluar dari sebuah institusi pendidikan formal sudah menjadi langkah besarku dalam hidup. Aku yang lulus dengan nilai yang cukup memuaskan membuatku dapat bergabung menjadi salah satu bagian dari salah satu SMA Negeri terbaik di negeri ini. Aku yang belum cukup puas akan pendidikan normal, mulai mencoba ke pendidikan yang memiliki standar Internasional. Hal ini membuat teman-teman SMP ku iri denganku, dan aku pun semakin dijauhi. Tapi sekali lagi, hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk menuntut ilmu.

Kisahku di sekolah ini dimulai dari kegiatan orientasi yang diadakan oleh sekolah selama tiga hari. Tidak seperti sekolah lain, kegiatan orientasi di sekolah ini memang cukup keras, apalagi untuk anak sepertiku. Sudah menjadi kewajibanku untuk mengerjakan tugas-tugas selama kegiatan berlangsung. Tapi sekali lagi, lemahnya fisik membuatku tidak bisa melangkah lebih jauh. Setiap malam saat teman-temanku mengerjakan dengan semangat, aku malah terlelap dalam kasur empukku bersama kedua bantal guling serta dihiasi dengan bau tak sedap liurku, alhasil selama tiga hari itu aku selalu melakukan kesalahan dan tingkat emosi para seniorku jauh melebihi anak-anak lain.

Akhirnya masa-masa orientasi telah berakhir, aku sudah membayangkan bagaiman indahnya masa SMA ku. Memang seperti kata pepatah “Dunia tidak seindah yang kita kira” pepatah itu rupanya masih melekat denganku hingga sekarang. Tidak jauh beda dari masa SMP ku, disini aku tetap saja tidak memiliki teman. Aku yang sudah berusaha mendekati teman-teman dengan cara apapun tetap saja tidak berhasil. Saat ini aku merasa berbeda, baru kali ini aku menyerah, apakah itu karena tekanan masa orientasi ? Aku sendiri pun tak tau.

Berawal dari sebuah acara bernama “cheerliar”, aku merasa kebencian teman-teman kepadaku semakin bertambah. Memang, selama kegiatan ini berlangsung aku selalu membuat masalah, tidak hanya dikelasku, bahkan sampai kakak kelasku. Masa-masa tingkat pertamaku di sekolah ini kujalani seperti biasa, sendiri. Tetapi tahun pertamaku tidak sepenuhnya kelam, disini aku menemukan cinta pertamaku, sungguh berbeda rasanya merasakan perasaan ini. Kekejaman teman-teman lain seakan hilang saat ia mengajakku berbicara.

Tahun kedua, keakraban dalam kelasku semakin bertambah, nama kelasku yang semula bernama Pentol, kini berganti Illuminati. Namun keakraban itu rupanya tak berfungsi untukku, bahkan mereka semakin mem-bully ku hanya karena rasku, ya, sangat tidak manusiawi. Namun Karena memang disini aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan, hukum rimba pun berlaku.

Semester dua, beberapa patah kata curhatan yang aku tuliskan pada salah satu media elektronik membuat beberapa temanku mulai peduli denganku, namun bukan kepedulian untuk berbuat baik, justru malah semakin membuat mereka geram akan ulahku. Forum terbuka dikelasku pun diadakan, demi mengerti apakah yang aku inginkan dan mengapa aku diperlakukan semena-mena. Forum berjalan cukup alot, kedua belah pihak (aku dan kelasku) saling membicarakan tuntutan dan bicara terang-terangan. Jalan akhir pun dijumpai, kami mulai membuat kesepakatan agar mereka mulai memperlakukan selayaknya teman, dan aku pun harus mengurangi rasa keegoisanku. Pada awalny hal ini berjalan baik, sampai akhirnya aku sendiri kembali ke tabiat awalku-mengesalkan. Hal ini membuat batalnya perjanjian kami secara natural dan mereka pun kembali memperlakukan aku seperti dulu.

Tak terasa masa SMA berjalan begitu cepat, aku yang pada awalnya dibenci dan tidak dapat berteman, kini dapat membaur cukup baik. Memang masa SMA ini adalah masa yang terindah, persahabatan pertama yang ku rasakan terjadi disini.

Masa perjuanganku selama tiga tahun disekolah ini akhirnya bebuah hasil. Aku diterima di salah satu PTN favorit di negeri ini. Begitu pula sahabatku. Mungkin kalian tidak akan percaya, suatu saat aku akan menjadi seorang programmer terkenal serta hidup bahagia dengan keluargaku.


#1 Illuminati stories. Adrian Yuwono Sutejo.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "#1 Bab3"

Posting Komentar