#1 Bab1

Ini Adalah Tempatku

Berawal dari sebuah daerah timur Asia. Chino, sebuah negara yang memiliki populasi terbesar di Asia, tempat yang terkenal akan kemegahan great wallnya itulah kehidupanku dimulai.

Aku adalah seorang anak dengan kulit putih pucat, dengan rambut yang bisa dibilang cukup aneh, serta cara berbicaraku yang dapat membuat malaikat pun bisa berubah menjadi setan, dan ini adalah cerita mengenai kisah hidupku.

Sejak kecil, hidupku memang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Besarnya populasi penduduk China membuatku serta keluargaku tak dapat duduk tenang, bahkan di negara kelahiran kami sekalipun. Aku yang tak tahan akan semua ini memutuskan untuk pergi, mungkin hingga meninggalkan negara yang tak memiliki rasa menghargai warga negaranya ini. Bermodalkan tekad, aku menumpang seorang temanku yang memiliki kapal dan memulai perjalanan panjangku. Beberapa orang mengira aku gila, “Anak berumur sepuluh ? Berlayar sendiri ? Ah, bodoh anak ini” mungkin seperti itulah bayangan beberapa orang jika melihat keadaanku ini.

Fisikku memang lemah, tapi tidak dengan keyakinanku. Lemahnya fisikku membuatku sering mabuk laut, mungkin terbersit beberapa pikiran-pikiran jengkel dari para awak kapal, mungkin berbunyi “ini anak, udah numpang, gak kerja, nyusahin tok” tapi bagai punduk merindukan bulan, sebenarnya aku ingin sekali membantu mereka. Menarik jangkar, mengembangkan layar, membersihkan dek kapal, tapi memang apalah dayaku, dan inilah kenyataan yang harus kuhadapi.

Lima bulan ku menempuh perjalanan, tanpa orang dewasa menemaniku, terduduk terdiam di kakus kapal, karena memang inilah satu-satunya tempat yang terbuka untukku dikapal ini, hanya ditemani suara deru ombak dan beberapa celah kayu atap kapal yang membuat ruang bagi sinar matahari untuk masuk. Sudah banyak tempat yang ku singgahi, dari Thailand, hingga Malaysia, tetapi menurutku tidak ada tempat yang cocok uuntukku, rasku maksudnya. Hingga suatu saat kapal kami berlabuh disebuah pulau kecil di sebuah Negara maritim bagian selatan Asia, orang-orang biasa menyebutnya pulau Jawa.

Pulau Jawa, aku melangkahkan beberapa langkah kakiku disana, beberapa langkah kaki yang berisi berjuta harapan dari seorang anak ingusan sepertiku ini. Sebenarnya yang kusinggahi adalah bagian timur pulau ini, kota Surabaya lebih tepatnya. Rupanya orang-orang pelabuhan memandangku dengan tatapan tak enak, mungkin dikira aku adalah tawanan perang yang sudah berhari-hari tidak dikasih makan. Rambut merah, perut kurus kering hingga terlihat beberapa tulang rusuk yang menonjol, muka bagaikan orang kekurangan suplai gizi ke otak, mulut menganga, mata…. Tetap seperti dulu.

Dari sana, aku yang tak memiliki kenalan hanya bisa duduk terdiam disamping truk barang, sambil melihat beberapa kuli megerjakan tugas hariannya. Sudah ada dalam pikirku akan bekerja seperti mereka demi bertahan hidup disini, tapi untunglah, sebelum hal itu terjadi, tiba-tiba ada seorang ibu yang memiliki ras yang sama denganku. Dia berbicara denganku dengan bahasa Indonesia, aku yang saaty itu tak mengerti apapun tentang bahasa local hanya bisa manggut-manggut selagi dia menarik tanganku dan memasukkanku kedalam sebuah mobil. Disetirnya mobil itu meninggalkan pelabuhan tempatku pertama kali menginjakkan tempat di pulau ini. Didalam mobil itu, aku dapat melihat betapa indahnya kota ini, bangunan-bangunan jaman koloni, pepohonan, dan dilengkapi berbagai pemandangan orang berlalu lalang dengan segala tanggung jawab yang ia pikul masing-masing, begitu mandiri, dan individualis. Bayangan lama bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk social seakan sirna melihat pemandangan kota ini.

Tak sampai perjalanan ini dimulai, terlihat olehku sebuah gapura merah besar dengan lambang naga, dan beberapa tulisan Chino dibagian atasnya. Aku yang saat itu tidak bisa membaca tulisan Chino tak tau apa maksud dari tulisan itu, tapi satu yang kuyakini bahwa “Ini adalah tempatku”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "#1 Bab1"

Posting Komentar