#2 Bab1
Anak Kecil Dengan Sejuta Harapan
Namaku Annisa Mulia Sabrina, dari kecil aku memang dibesarkan di lingkungan yang keras, dan menuntut kemandirian. Aku adalah cewek keturunan Jawa Tionghoa, dengan tinggi rata-rata. Dibesarkan di suata lingkungan pasar yang kurang kondusif tidak membuatku patah semangat dalam menuntut ilmu, justru karena tempat inilah, aku yang dewasa kelak memiliki instuisi bisnis yang tinggi. Berhubungan dengan berbagai macam orang, membuatku dapat menilai betapa beragamnya individu bernama manusia ini.
5 Oktober 1993, tepat pada tanggal itu, ibuku menahan rasa sakit yang luar biasa. Demi melihat seorang buah hatinya, beliau rela untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Anak kecil dengan sejuta harapan, itulah lima kata yang dapat mewakilkan diriku. Satiap kali beliau menceritakan proses kelahiranku yang sangat bersejarah baginya, aku selalu menitihkan air mata, mengingatkanku akan janjiku untuk membahagiakan beliau. Saat aku berumur tiga tahun, usaha yang dirintis ibu dari dahulu tiba-tiba saja musnah. Pasar yang menjadi tumpuan ibu dalam menghidupi keluarga terbakar tanpa ada alasan yang jelas, hal ini sangat mempengaruhi kehidupan kami. Aku yang awalnya diberi sebotol susu hangat, sekarang hanya bisa meminum tajin-air rendaman beras yang berwarna putih pucat.
Tak ingin terpuruk begitu lama dalam keadaan ini, ibu segera membangun kembali usaha dagangnya dengan menggunakan tabungan yang bertahun-tahun telah beliau siapkan untuk biaya sekolahku kelak. Usaha ibu yang begitu gigih dalam menjalani kehidupan keras ini mengajarkanku suatu hal yang berharga, “jika kau memandang kehidupanmu keras, maka kau harus menjadi lebih keras”.
Saat menginjak umur enam tahun, ibuku memasukkanku kedalam salah satu SD negeri di kotaku. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, nak” itulah kata yang sering beliau ucapkan kepadaku, dan tentu itu merupakan cambuk yang keras untukku dalam meraih pendidikan. Aku yang saat itu menjadi seorang pelajar SD tidak menghalangiku untuk tetap membantu ibu berdagang di pasar. Sepulang sekolah, aku melangkahkan kedua kaki mungilku keluar sekolah, menuju kejalanan sempit penuh genangan air untuk menghampiri kios ibuku yang memang terletak pada bagian tengah pasar. Dibukanya buku tulis lusuhku saat tiba di kios. Membaca kembali pelajaran yang tadi kudapatkan, itulah yang selalu ku lakukan sepulang sekolah, sembari melayani pembeli dengan pandangan tetap tertuju pada bukuku.
Suatu saat, tiba-tiba saja salah seorang guruku memilih aku untuk mengikuti lomba cerdas cermat yang memang konon kabarnya, hadiah dari lomba itu sangatlah besar. Merasa membawa amanah yang begitu berat, aku meningkatkan kualitas belajarku. Aku yang sepulang sekolah biasa membantu ibu di pasar, kini berubah haluan menuju rumah petak disebelah rel kereta api. Deru kereta api yang begitu keras masih juga tak dapat menghalangi rasa semangatku. Belajar mulai diterangi sinar matahari yang terik, hingga lampu teplok yang remang aku lakukan tiap hari. Gigitan nyamuk tak pernah kuhiraukan, pernah suatu pagi kulitku bentol-bentol biru karenanya.
Belajar tekun disekolah, mencatat tiap kata ilmu yang diucapkan bapak dan ibu guru, membaca kembali catatan itu dirumah, hal itu kulakukan berulang-ulang tiap harinya.
Hari itu pun tiba, hari yang menurutku adalah hari terbesar dan kesempatan untuk menjadi titik balik nasibku. Memang, saat ini aku masih menginjak kelas 4 SD, tapi ilmu sampai kelas 6 pun sudah aku kuasai semua. Ibu yang seharinya selalu bekerja di pasar, khusus hari ini beliau menutup dagangannya, hanya untuk melihat anak kesayangannya ini beraksi.
Namaku Annisa Mulia Sabrina, dari kecil aku memang dibesarkan di lingkungan yang keras, dan menuntut kemandirian. Aku adalah cewek keturunan Jawa Tionghoa, dengan tinggi rata-rata. Dibesarkan di suata lingkungan pasar yang kurang kondusif tidak membuatku patah semangat dalam menuntut ilmu, justru karena tempat inilah, aku yang dewasa kelak memiliki instuisi bisnis yang tinggi. Berhubungan dengan berbagai macam orang, membuatku dapat menilai betapa beragamnya individu bernama manusia ini.
5 Oktober 1993, tepat pada tanggal itu, ibuku menahan rasa sakit yang luar biasa. Demi melihat seorang buah hatinya, beliau rela untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Anak kecil dengan sejuta harapan, itulah lima kata yang dapat mewakilkan diriku. Satiap kali beliau menceritakan proses kelahiranku yang sangat bersejarah baginya, aku selalu menitihkan air mata, mengingatkanku akan janjiku untuk membahagiakan beliau. Saat aku berumur tiga tahun, usaha yang dirintis ibu dari dahulu tiba-tiba saja musnah. Pasar yang menjadi tumpuan ibu dalam menghidupi keluarga terbakar tanpa ada alasan yang jelas, hal ini sangat mempengaruhi kehidupan kami. Aku yang awalnya diberi sebotol susu hangat, sekarang hanya bisa meminum tajin-air rendaman beras yang berwarna putih pucat.
Tak ingin terpuruk begitu lama dalam keadaan ini, ibu segera membangun kembali usaha dagangnya dengan menggunakan tabungan yang bertahun-tahun telah beliau siapkan untuk biaya sekolahku kelak. Usaha ibu yang begitu gigih dalam menjalani kehidupan keras ini mengajarkanku suatu hal yang berharga, “jika kau memandang kehidupanmu keras, maka kau harus menjadi lebih keras”.
Saat menginjak umur enam tahun, ibuku memasukkanku kedalam salah satu SD negeri di kotaku. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, nak” itulah kata yang sering beliau ucapkan kepadaku, dan tentu itu merupakan cambuk yang keras untukku dalam meraih pendidikan. Aku yang saat itu menjadi seorang pelajar SD tidak menghalangiku untuk tetap membantu ibu berdagang di pasar. Sepulang sekolah, aku melangkahkan kedua kaki mungilku keluar sekolah, menuju kejalanan sempit penuh genangan air untuk menghampiri kios ibuku yang memang terletak pada bagian tengah pasar. Dibukanya buku tulis lusuhku saat tiba di kios. Membaca kembali pelajaran yang tadi kudapatkan, itulah yang selalu ku lakukan sepulang sekolah, sembari melayani pembeli dengan pandangan tetap tertuju pada bukuku.
Suatu saat, tiba-tiba saja salah seorang guruku memilih aku untuk mengikuti lomba cerdas cermat yang memang konon kabarnya, hadiah dari lomba itu sangatlah besar. Merasa membawa amanah yang begitu berat, aku meningkatkan kualitas belajarku. Aku yang sepulang sekolah biasa membantu ibu di pasar, kini berubah haluan menuju rumah petak disebelah rel kereta api. Deru kereta api yang begitu keras masih juga tak dapat menghalangi rasa semangatku. Belajar mulai diterangi sinar matahari yang terik, hingga lampu teplok yang remang aku lakukan tiap hari. Gigitan nyamuk tak pernah kuhiraukan, pernah suatu pagi kulitku bentol-bentol biru karenanya.
Belajar tekun disekolah, mencatat tiap kata ilmu yang diucapkan bapak dan ibu guru, membaca kembali catatan itu dirumah, hal itu kulakukan berulang-ulang tiap harinya.
Hari itu pun tiba, hari yang menurutku adalah hari terbesar dan kesempatan untuk menjadi titik balik nasibku. Memang, saat ini aku masih menginjak kelas 4 SD, tapi ilmu sampai kelas 6 pun sudah aku kuasai semua. Ibu yang seharinya selalu bekerja di pasar, khusus hari ini beliau menutup dagangannya, hanya untuk melihat anak kesayangannya ini beraksi.








0 Response to "#2 Bab1"
Posting Komentar