#2 Bab2

Hari Spesial

Hari ini memang berbeda dengan hari lainnya. Aku yang biasa berlarian riang kesana kemari menuju sekolahku, kini berbeda. Hari ini, ibu menggenggam erat tangan kananku. Genggaman itu seakan mewakili berjuta kata yang tak dapat beliau ungkapkan lagi. Beliau seakan berkata, “Nak, harumkanlah nama keluargamu ini”, dan pastinya dengan berbagai macam harapan lain.

Lomba ini diadakan dibalai kota, lomba yang memang diadakan oleh walikota sendiri untuk memperingati hari jadi kotaku. Dari rumah, kami menaiki angkutan umum yang sejalan dengan tempat diadakan lomba, kurang lebih 10km jauhnya. Di perjalanan aku hanya bisa duduk tegang sambil sesekali menengok ke jendela khaawatir angkutan umum yang kami tumpangi kelewatan, dan hari yang spesial ini menjadi tidak spesial lagi. Untunglah hal itu tudak terjadi, dan sampailah kami didepan pintu gerbang balai kota, aku sungguh takjub. Seorang anak kecil yang hanya mengerti tentang berdagang, sekolah, dan agama, kini harus dihadapkan dengan megahnya gedung balai kota, serta musuh-musuh dari berbagai sekolah dasar di kota ini.

Di depan gerbang aku mengambil nafas, kemudian menghembuskannya perlahan, berusaha menguasai diri akan takjubnya semua hal ini. Merasa lebih baik aku melepaskan diri dari genggaman ibuku, berlari menuju pos pendaftaran ulang untuk mendapatkan nomor peserta.

Persiapan sudah matang, pendaftaran sudah dilakukan, kini yang bisa aku lakukan adalah berdoa serta tetap berusaha memenangkan kompetisi ini. Sebelum perlombaan dimulai, aku menemui beberapa guru, serta teman-temanku untuk berdoa bersama, dan cerdas cermat pun dimulai.

Dimulai dari babak penyisihan, hingga babak semifinal telah aku lalui dengan baik. Beberapa pertanyaan-pertanyaan menjebak yang dilontarkan oleh juri sempat membuat anak dari sekolah lain, bahkan teman se-timku panik. Tapi tidak untukku, upaya belajar giat memang terbukti hari ini, aku lolos ke babak final.

Babak final, tiap sekolah hanya dapat mengirimkan satu perwakilan pada babak ini. Dengan kata lain, satu orang itulah yang menjadi pertaruhan menang atau kalahnya suatu sekolah, dan tidak diragukan, SDku memilih aku sebagai perwakilan itu. Maju ke babak final dalam acara seperti ini merupakan hal yang sangat besar yang pernah dialami oleh keluargaku. Sembari melangkah menuju podium final, aku melihat wajah ibuku berlinangan air mata kebahagiaan, hal ini membuat diriku semakin bersemangat lagi. Tak diragukan, aku memenangkan perlombaan ini, dan berhak menerima beasiswa hingga lulus sekolah. Dapat dibayangkan betapa senangnya seorang pemilik toko kecil di tengah pasar kumuh itu melihat anak kebanggaannya mendapatkan beasiswa. Bahkan beliau sendiri pun mungkin tak tahu apa beasiswa itu sebenarnya, yang ia tahu itu adalah hal yang besar. Sangat besar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "#2 Bab2"

Posting Komentar