#2 Bab3

New Life

Berselang dari kemenangan besar itu kehidupanku berubah. Dari perlombaan itu, aku mendapatkan hadiah beasiswa sampai tamat pendidikan dasarku, serta hadiah uang tunai sebesar satu juta rupiah, nominal ini sangatlah langka pada saat masa-masa krisis saat itu.

Kini, berbekal beasiswa sekolah itu, aku dipindahkan oleh ibuku ke salah satu SD swasta yang tetap berada di kota ini dengan harapan pendidikan yang aku nikmati dapat menjadi lebih baik. Sebagian orang memang menganggap apa yang dilakukan ibuku itu tidak mengenal rasa terima kasih. Mereka berpendapat aku dan ibuku bagai kacang lupa kulit, melupakan sekolah yang sudah membuatku hebat sampai seperti ini selama empat tahun, dan begitu mendapatkan hadiah beasiswa aku begitu saja melupakan sekolah lamaku dan pindah ke sekolah lain. Tapi, aku tak peduli apapun yang mereka katakana, aku juga tak berpendapat bahwa apa yang dilakukan ibuku ini aji mumpung. Bukan, satu-satu yang kupikirkan tentang apa yang dilakukan ibuku ini adalah bukti betapa seorang ibu menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya. Hadiah tunai yang kudapatkan, setelah aku bagu dengan teman sekelompokku serta sekolah, aku berikan sepenuhnya pada ibuku untuk dijadikan modal tokonya. Lomba yang benar merubah hidupku, itulah yang dapat aku renungi, bagaikan membebaskanku dan keluargaku dari keterpurukan selama ini. Andaikan aku bisa mengarang lagu, mungkin aku akan membuat lagu tentang hidupku ini dan kuberi nama “New Life”.

Sekolah baru, jika beberapa orang mengatakan betapa sulitnya mendapatkan teman di lingkungan baru, dan jika aku sampai mengatakan itu, mungkin aku akan mengutuk diriku sendiri seumur hidupku. Lingkungan baru bukan halangan bagi diriku untuk mencari teman, di sekolah ini aku mendapatkan banyak sekali teman, dari teman cewek sampai teman cowok, aku pun dengan mudahnya dapat berbaur dengan mereka tanpa minder sedikitpun.

Tak terasa sudah dua tahun kuhabiskan sisa masa-masa pendidikan dasarku di SD swasta ini. Dua tahun benar-benar membuat gaya hidupku berubah, dari dahulu seorang gadis kecil yang memiliki semangat belajar yang sangat tinggi, kini aku tetap menjadi gadis kecil, hanya saja saat ini aku lebih senang bermain dengan teman-temanku dan belajar pun semakin lama semakin kutinggalkan. “Apa yang kita tanam, itulah yang kita petik”, dulu aku yang belajar sangat tekun dan memperoleh juara pada lomba cerdas cermat, seperti itulah cara pepatah ini bekerja. Kini aku yang mulai menyepelekan belajar pun juga mendapatkan ganjaran yang sama, aku mendapatkan nilai yang kurang memuaskan dalam ujian, dan hanya bisa memasuki SMP yang bisa dibilang kurang favorit di kota ini. “Maafkan aku ibu” kata inilah yang aku ucapkan berkali-kali saat menghadapi kenyataan ini, ini adalah pertama kali aku mengecewakan ibuku yang sudah berusaha memberikan yang terbaik untukku. “Maafkan aku ibu”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "#2 Bab3"

Posting Komentar